Konflik Timur Tengah dan Ancaman Hormuz Bikin Kurs Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000

Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS. -ist-

KEJARKABAR.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026). Mata uang Garuda melemah 20 poin atau 0,12 persen ke level Rp16.892 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.872 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar atas risiko pasokan energi global di tengah memanasnya konflik di kawasan Asia Barat.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, eskalasi terjadi setelah pasukan Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan tambahan terhadap fasilitas yang dikaitkan dengan Iran.

Situasi tersebut dibalas Teheran dengan peningkatan kekuatan militer di kawasan Teluk serta peringatan keras kepada operator pelayaran internasional.

Ketegangan makin memuncak ketika Iran mengancam kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz — jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina hingga Shell di Indonesia di Tengah Konflik Global Memanas, Cek Disini!

Ancaman tersebut memicu lonjakan premi risiko geopolitik di pasar energi global.

Tak hanya itu, Irak dilaporkan mulai menghentikan sebagian produksi di ladang minyak raksasa Rumaila dan West Qurna 2. Sekitar 1,2 juta barel per hari produksi disebut terdampak, memperkuat kekhawatiran gangguan suplai minyak mentah dunia.

Sentimen Domestik Ikut Menekan

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Meski demikian, peringkat kredit jangka panjang mata uang asing Indonesia tetap dipertahankan di level BBB.

Baca Juga :  Smartphone Flagship POCO F8 Series Meluncur, Pakai Speaker dari Bose Cek Harganya Disini

Revisi prospek tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terhadap konsistensi bauran kebijakan ekonomi nasional. Kondisi ini dinilai berpotensi membebani prospek fiskal jangka menengah serta memengaruhi kepercayaan investor.

Namun, Fitch masih melihat fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga. Stabilitas makroekonomi, rasio utang pemerintah yang moderat terhadap PDB, serta cadangan devisa yang dinilai memadai menjadi penopang utama.

Untuk 2026, defisit fiskal diproyeksikan berada di kisaran 2,9 persen terhadap PDB, sedikit di atas target pemerintah sebesar 2,7 persen.

Perkiraan tersebut mempertimbangkan asumsi penerimaan negara yang lebih konservatif dan peningkatan belanja sosial, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BI Turun Tangan Jaga Stabilitas

Baca Juga :  Harga Telur Ayam Ikut Naik! Cabai Rawit Tembus Rp42.700 per Kg, Begini Rinciannya

Di tengah tekanan eksternal dan domestik, Bank Indonesia memastikan tetap aktif menjaga stabilitas rupiah. Intervensi dilakukan melalui pasar offshore lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Bank sentral juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) turut melemah ke level Rp16.911 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.870 per dolar AS.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi nasional. Jika ketegangan global terus meningkat, bukan tidak mungkin tekanan terhadap rupiah akan semakin besar dalam waktu dekat. (*)

Pos terkait