KEJARKABAR.COM, MUAROJAMBI – Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel makanan dan sampel klinis terkait dugaan keracunan massal di salah satu sekolah dasar mengungkap temuan bakteri patogen.
Etiologi utama kasus ini diduga kuat disebabkan oleh Staphylococcus aureus, dengan kontribusi bakteri Escherichia coli (E.coli).
Ketua Satgas MBG Muaro Jambi Budhi Hartono menyampaikan Berdasarkan paparan hasil laboratorium dan diagnosis etiologi, bakteri Staphylococcus aureus ditemukan pada sejumlah sampel makanan, antara lain tahu (bank sampel), toge (bank sampel), ayam suir (sisa siswa), kol (sisa siswa), serta beberapa sampel sisa makanan lainnya.
Sementara itu, E. coli terdeteksi pada sampel bihun (sisa siswa kelas 1–3). Kombinasi E. coli dan Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel ayam suir dari bank sampel.
Tak hanya pada makanan, hasil pemeriksaan sampel klinis menunjukkan feses seorang anak berusia 7 tahun dinyatakan positif E. coli. Temuan ini memperkuat dugaan adanya kontaminasi pangan yang memicu gejala pada siswa.
Selain faktor makanan, uji kualitas air sumur bor yang digunakan juga menunjukkan hasil yang tidak memenuhi syarat.
Total coliform tercatat sebesar 33 CFU/100 ml, melebihi ambang batas yang diperkenankan.
Kandungan mangan sebesar 0,74 mg/l juga dinyatakan tidak memenuhi standar mutu, sehingga berpotensi menjadi faktor risiko kontaminasi lingkungan.
Dalam kesimpulan etiologi, tim pemeriksa menyatakan pola kejadian mengarah pada common source outbreak atau wabah dengan satu sumber paparan yang sama, ditandai dengan satu puncak kasus yang tajam dalam kurun waktu tertentu.
Temuan ini mengindikasikan bahwa kontaminasi kemungkinan terjadi pada proses pengolahan atau distribusi makanan sebelum dikonsumsi siswa.
Bakteri Staphylococcus aureus umumnya berasal dari kontaminasi tangan atau peralatan yang tidak higienis, sedangkan E. coli kerap berkaitan dengan sanitasi yang buruk.
Pihak terkait diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengolahan makanan, sanitasi dapur, serta kualitas air yang digunakan, guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Dalam rapat evaluasi tersebut, Satgas MBG Budhi Hartono juga menyampaikan sejumlah catatan perbaikan kepada yayasan penyelenggara, Aziz Rukiyah Amanah.
Rekomendasi itu meliputi peningkatan pengawasan dapur, penerapan standar keamanan pangan secara ketat, serta perbaikan sistem air bersih dan sanitasi.
Pengawasan harian juga diminta diperkuat, khususnya oleh petugas SPPG yang berada langsung di lokasi produksi.
“Petugas lapangan yang setiap hari berada di dapur harus memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar. Pengawasan tidak boleh longgar,” ujar Budhi.
Terkait kemungkinan penghentian atau penggantian yayasan pengelola, Budhi menegaskan kewenangan tersebut berada pada pihak yang berwenang atau BGN Pusat. Satgas, kata dia, hanya menyampaikan hasil pemeriksaan dan rekomendasi sebagai bahan pertimbangan.
“Keputusan apakah diperpanjang, dihentikan, atau diganti sepenuhnya menjadi kewenangan pihak BGN Pusat. Kami fokus pada hasil evaluasi dan langkah perbaikan,” katanya.
Hasil evaluasi ini menjadi pengingat bagi seluruh penyelenggara layanan makan di daerah untuk konsisten menerapkan standar keamanan pangan, guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari. (*)





