Ah! Banjir Datang Setiap Tahun, Jeritan Warga Desa Suka Maju Tanjab Timur Seolah Tak Pernah Didengar

MUARASABAK, KEJARKABAR.COM – Warga Desa Suka Maju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kembali harus berjibaku dengan banjir tahunan yang kian hari terasa makin mengkhawatirkan.

Luapan air Sungai Lagan akibat sedimentasi yang parah disebut sebagai pemicu utama genangan yang rutin melanda wilayah tersebut.

Hampir setiap musim hujan, air sungai meluber hingga merendam jalan penghubung antarpermukiman.

Tak hanya akses jalan, banjir juga menggenangi rumah warga, pasar tradisional, kantor desa, hingga sejumlah fasilitas umum lainnya.

Desa Suka Maju diketahui berada tepat di dataran rendah dan berbatasan langsung dengan kawasan hutan produksi tanaman akasia milik PT Wira Karya Sakti (WKS).

Baca Juga :  Status Darurat! Banjir Kiriman Lumpuhkan Kota Solok, Lebih dari 3 Ribu Warga Terpaksa Mengungsi

Kondisi ini membuat wilayah tersebut menjadi titik kumpul aliran air dari sejumlah kawasan sekitar.

Nadillah, salah satu warga, mengaku banjir membuat aktivitasnya terganggu. Ia menyebut genangan air di Blok H Suka Maju bisa mencapai setinggi paha orang dewasa.

“Kalau malam saya takut lewat jalan yang tergenang. Kadang pulang kerja terpaksa numpang menginap di rumah teman karena tidak berani pulang,” ujarnya.

Menurutnya, banjir sudah menjadi persoalan tahunan, terutama saat intensitas hujan tinggi.

Warga hanya bisa berharap ada solusi nyata dari pemerintah dan pihak terkait.

“Kami cuma berharap ada penanganan serius supaya desa kami tidak terus-terusan kebanjiran,” tuturnya.

Baca Juga :  Makanan Dinilai Tak Layak Konsumsi, Dewan Muaro Jambi: SPPG Sengeti Yayasan Aziz Rukiyah Langgar SOP

Sementara itu, Kepala Desa Suka Maju, Didik Budi Cahyanto, menjelaskan bahwa secara geografis wilayahnya berada di titik paling rendah, sehingga menampung limpahan air dari beberapa sungai kecil di sekitarnya.

“Ibarat kuali, desa kami ini berada di bagian paling bawah,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kondisi Sungai Lagan yang mengalami pendangkalan cukup parah akibat sedimentasi, tumpukan kayu, sampah, dan tumbuhan liar yang memenuhi aliran sungai.

“Sudah beberapa kali dilakukan pembersihan, tapi hasilnya belum maksimal karena alat berat hanya bisa menjangkau pinggir sungai,” katanya.

Didik menilai, solusi yang efektif adalah pengerukan menggunakan ekskavator amfibi agar bagian tengah sungai bisa dibersihkan dan kedalaman sungai kembali normal.

Baca Juga :  Kebakaran Hebat Hanguskan 2 Unit Rumah Warga Muarasabak Timur hingga Rata dengan Tanah

Akibat banjir tersebut, sejumlah kepala keluarga terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat yang lebih aman.

Selain itu, genangan air di jalan berbatu juga membahayakan pengendara sepeda motor karena rawan tergelincir.

Banjir juga melumpuhkan aktivitas pasar tradisional Desa Suka Maju. Para pedagang terpaksa berjualan di bahu jalan dan akses masuk kantor desa karena lokasi pasar terendam.

“Meski pengelolaan pasar berada di bawah Dinas Perindag, kami tidak keberatan pedagang menggunakan area kantor desa sementara waktu. Yang penting kebersihan tetap dijaga,” pungkas Didik. (*)

Pos terkait