JAMBI, KEJARKABAR.COM – Suasana kawasan Sipin, Kota Jambi, mendadak mencekam setelah seorang pedagang konter handphone bekas menjadi korban penikaman brutal di dalam tokonya sendiri.
Peristiwa itu terjadi pada Senin sore, 22 Desember 2025, sekitar pukul 15.37 WIB, saat konter masih melayani pengunjung.
Korban berinisial IB, pemilik Raa Store, mengungkapkan kejadian bermula ketika seorang calon pembeli datang untuk menawar harga ponsel.
IB mengaku melayani konsumen tersebut secara wajar dan ramah, sebagaimana aktivitas jual beli biasanya.
Namun situasi tiba-tiba berubah ketika seorang pria berinisial I datang ke lokasi dan langsung melontarkan ancaman kepada konsumen.
Pria tersebut diduga merupakan pemilik konter lain bernama Gatay Store yang berada di kawasan yang sama. Merasa terintimidasi, konsumen pun memilih pergi meninggalkan toko.
Tak berhenti di situ, pelaku kembali meluapkan emosinya kepada korban dengan nada ancaman.
IB mencoba menenangkan suasana dengan menjelaskan bahwa dirinya hanya melayani pembeli yang datang. Setelah sempat terdiam, pelaku meninggalkan lokasi.
Sekitar lima menit kemudian, anak pelaku berinisial A mendatangi konter dan mempertanyakan ucapan korban kepada ayahnya. Adu argumen pun terjadi hingga akhirnya A memanggil kembali sang ayah ke lokasi.
Berdasarkan pengakuan korban dan rekaman CCTV, situasi kembali memanas. Tanpa perlawanan dari korban, pelaku I tiba-tiba menyerang menggunakan benda tajam yang diduga gunting, menusuk paha korban.
Tak hanya itu, pelaku juga mendorong etalase hingga pecah dan menggunakan pecahan kaca untuk melukai kaki korban.
Korban bahkan masih dikejar oleh anak pelaku, yang disebut ikut melakukan pemukulan dan tendangan. Akibat kejadian tersebut, IB mengalami luka serius dan trauma mendalam.
Secara medis, luka korban tergolong parah. Telapak kaki mengalami luka koyak sekitar 9 sentimeter dengan kedalaman 2,5 sentimeter dan harus dijahit sebanyak 14 jahitan. Sementara luka tusuk di paha memiliki kedalaman sekitar 2 sentimeter.
IB telah melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian sejak hari kejadian. Namun hingga kini, korban mengaku belum menerima perkembangan terkait penanganan kasus tersebut.
Salah satu anak pelaku berinisial Y juga diduga mengetahui keberadaan kedua terduga pelaku, namun belum bersedia memberikan keterangan kepada pihak berwajib.
Kasus ini menambah daftar kekerasan yang dipicu persaingan usaha, sekaligus memicu keresahan di kalangan pedagang setempat. (*)





