Luka dan Memar Ditubuh Menguatkan Kecurigaan, Keluarga Menduga MR Dianiaya Sebelum Meninggal

Foto ilustrasi santri salah satu ponpes di Sungaibahar, Muarojambi, meninggal dengan luka dan memar di tubuh.

MUAROJAMBI, KEJARKABAR.COM– Kematian tragis seorang santri bernama MR dari Pondok Pesantren di  Sungai Bahar, membuka babak baru soal wajah pendidikan keagamaan di negeri ini.

MR merupakan santri muda. Dia menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah sebelumnya mengalami demam tinggi, muntah darah, dan ditemukan dengan tubuh penuh lebam.

Pihak keluarga menyebut ada kejanggalan yang tak bisa ditutupi. Anak mereka seperti habis disiksa.

Kini, Kementerian Agama Muaro Jambi tak lagi bisa tinggal diam.

Tragis! Kecelakaan di Jalinsum Sarolangun, Penumpang PCX Meninggal Dilindas Tronton

Organisasi Pedagang Kecil Jakarta Kompak Tolak Raperda Kawasan Tanpa Rokok, Ini Alasannya

Kepala Kemenag Muaro Jambi, Buhry, menyatakan bahwa jika terbukti ada unsur kelalaian atau kesengajaan dari pihak pondok, izin operasional bisa langsung dicabut.

Baca Juga :  Lagi Asyik Nongkrong di Cafe, DPO Narkoba Polres Tanjab Barat Diciduk Polisi

“Sanksi terberatnya adalah pencabutan izin operasional. Kami tunggu hasil dari pihak kepolisian,” sampainya.

Kemenag bahkan telah mengawal proses pemeriksaan yang sedang berlangsung di Polres Muaro Jambi.

Pimpinan pondok, santri satu kamar dan satu kelas dengan korban, hingga Ketua Forum Komunikasi Pimpinan Ponpes ikut diperiksa. Bahkan Kasi Ponpes Kemenag sendiri juga ikut dimintai keterangan.

“No Other Choice”: Komedi Gelap tentang Pemecatan, Frustrasi, dan Akal Sehat yang Tergelincir

Singgung Soal Anies Baswedan di Munas PKS, Ini Kata Prabowo

Sementara itu, Satreskrim Polres Muaro Jambi mulai membuka lembaran awal penyelidikan. AKP Hanafi Dita Utama, Kasat Reskrim, menyatakan pihaknya masih menunggu hasil visum dari rumah sakit. Namun, proses klarifikasi kepada sejumlah saksi kunci telah dimulai.

Baca Juga :  Diduga Rem Blong, Mobil Dinas PLN Terbalik di Tengah Car Free Day Kerinci, 7 Pegawai Luka-luka

“Pengambilan keterangan untuk data awal sudah kami lakukan. Tapi untuk kesimpulan, kita tunggu hasil visum. Keluarga juga belum buat laporan karena masih berduka,” katanya.

Untuk diketahui, korban bernama MR, santri asal Sungai Bahar, meninggal dunia pada Kamis (25/9) lalu. Keluarga korban menduga kuat bahwa kematiannya tidak wajar dan kemungkinan disebabkan oleh penganiayaan di lingkungan pondok pesantren.

Sebelum meninggal, MR sempat mengalami demam tinggi dan dibawa pulang oleh pihak pondok. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dirujuk ke beberapa rumah sakit, mulai dari RSUD Sungai Bahar, RSUD Abdul Manap, hingga RSUD Raden Mattaher Jambi, tempat ia menghembuskan napas terakhir.

Baca Juga :  5.303 Siswa di Jambi Dapat Seragam dan Beasiswa Gratis Program Dumisake dari Gubernur Al Haris

FILM BARU! “Tukar Takdir”: Ketika Tragedi Udara Menjadi Drama Manusia yang Menggetarkan

Jokowi Minta ASEAN Tangani Masalah Muslim Rohingya di Rakhine State

Pihak keluarga menyebut terdapat lebam dan luka di tubuh MR. Bahkan, korban disebut sempat muntah darah sebelum meninggal.

“Ada luka-luka di tubuh, lebam memar di badan,” kata pihak keluarga.

Dia mengatakan dokter RSUD Raden Mattaher Jambi juga sempat mengungkapkan ada yang tidak wajar dengan kondisinya.

“Kronologinya saya belum bisa menjabarkan, takut salah bicara, intinya banyak kejanggalan,” ujar kerabat almarhum MR. (*)

Pos terkait