“No Other Choice”: Komedi Gelap tentang Pemecatan, Frustrasi, dan Akal Sehat yang Tergelincir

Film Korea No Other Choice (IMDB/CJ ENM)

KEJARKABAR.COM – Apa jadinya jika hidup yang selama ini tampak sempurna tiba-tiba hancur dalam sekejap? Inilah premis getir dari film terbaru garapan sutradara kenamaan Park Chan-wook, “No Other Choice”, yang mengangkat kisah Man-su (Lee Byung Hun), seorang pria paruh baya yang tiba-tiba dipecat dari pekerjaannya setelah puluhan tahun setia bekerja.

Man-su hidup nyaman bersama istri, dua anak, dua anjing, dan rumah megah. Ia bahkan merasa bahagia saat menerima paket daging mahal dari perusahaannya—hadiah yang ia kira sebagai bentuk apresiasi, tapi ternyata simbol perpisahan. Ia dipecat tanpa peringatan, hanya dengan alasan “tidak ada pilihan lain”.

Pemecatan itu mengguncang hidupnya. Dari kepala keluarga yang percaya diri, Man-su berubah menjadi pria putus asa yang berusaha keras menyesuaikan diri dengan realitas baru.

Bersama kelompok pengangguran, ia mengikuti terapi berpikir positif demi menyemangati diri bahwa pekerjaan baru akan datang dalam waktu tiga bulan.

Singgung Soal Anies Baswedan di Munas PKS, Ini Kata Prabowo

FILM BARU! “Tukar Takdir”: Ketika Tragedi Udara Menjadi Drama Manusia yang Menggetarkan

Sementara itu, istrinya, Miri (Son Ye Jin), perlahan harus mengubah gaya hidup keluarga. Kehidupan mereka mulai dihantui masalah finansial, hobi-hobi mahal ditinggalkan, bahkan langganan platform streaming pun harus dihentikan. Ia pun mencari pekerjaan paruh waktu di klinik gigi—upaya mempertahankan kewarasan di tengah badai.

Baca Juga :  Maudy Ayunda Isi Original Soundtrack film “Para Perasuk”, Soroti Pemerataan untuk Perfilman Indonesia

Man-su sendiri mencoba peruntungan dengan mencari pekerjaan di perusahaan kertas ternama, Moon Paper. Ia yakin, sebagai ahli di industri itu, ia adalah kandidat terbaik. Namun kenyataan berkata lain—persaingan sangat ketat dan tidak berpihak padanya.

Di sinilah pikiran nekat mulai muncul: jika ia ingin mendapat posisi itu, ia harus menyingkirkan pesaing-pesaing kuatnya.

Film ini menggambarkan dengan kocak sekaligus tragis tentang bagaimana tekanan hidup bisa memaksa seseorang menempuh jalan ekstrem. Man-su bukanlah tokoh antagonis jahat.

Organisasi Pedagang Kecil Jakarta Kompak Tolak Raperda Kawasan Tanpa Rokok, Ini Alasannya

IHSG Menguat di Tengah Sikap Wait and See Menjelang Rilis Data Inflasi dan Manufaktur

Ia hanya seorang pria biasa yang terjebak dalam situasi luar biasa. Saat pikirannya mulai kehilangan logika, ia tetap digambarkan sebagai sosok kikuk dan realistis, bukan pembunuh berdarah dingin.

Baca Juga :  Polda Metro Jaya: DJ Panda dan Erika Carlina Dijadwalkan Bertemu Siang Ini

Dua pesaing utamanya pun punya cerita sendiri. Ada Bummo (Lee Sung Min), pria putus asa yang menenggelamkan diri dalam alkohol, membuat istrinya yang seorang aktris teater (Ara, diperankan Yeom Hye Ran) frustrasi.

Lalu ada Sijo (Cha Seung Won), yang bekerja di toko sepatu demi menghidupi putrinya. Meski bersaing, mereka semua sama-sama korban sistem.

Ketegangan berpadu dengan humor gelap ketika Man-su mulai menjalankan rencananya. Pertengkaran absurd dengan Bummo dan Ara menjadi momen lucu sekaligus memilukan.

Tunggal Putra Paceklik Gelar All England 25 Tahun, Ini Saran Untuk Jonatan dkk

Pergantian Jitu Luis Milla yang Mengantar Indonesia ke Semifinal

Lee Byung Hun tampil apik sebagai pria lugu yang kehilangan arah—jauh dari perannya di Squid Game atau Mr. Sunshine.

Sentuhan sinematik khas Park Chan-wook tetap terasa—komposisi visual yang menawan, pemilihan warna yang tajam, dan penggunaan kamera statis yang menyajikan dinamika tokoh sebagai titik fokus utama. Nuansa yang mengingatkan pada Decision to Leave masih terasa kental di sini.

Film ini diadaptasi dari novel The Ax karya Donald E. Westlake, yang sebelumnya juga diangkat ke layar lebar oleh Costa-Gavras pada 2005. Namun, versi Park Chan-wook membawa cerita ke masa kini, di mana digitalisasi dan otomasi membuat profesi seperti milik Man-su kian tersingkir.

Baca Juga :  Rosé BLACKPINK Kejutkan BLINK Jakarta: Bawakan ‘Number One Girl’ dan Ajak Fans Naik ke Panggung

Meskipun berasal dari novel lama yang terbit pada 1997, film ini terasa sangat relevan. Transformasi dunia kerja, ancaman PHK massal, dan tekanan hidup dalam ekonomi modern juga dialami banyak orang—termasuk di Indonesia.

Cerita Man-su adalah refleksi dari keresahan universal: apa yang terjadi jika kontribusi puluhan tahun dianggap tak lagi berarti?

Park Chan-wook sendiri mengakui bahwa rasa gelisah seperti Man-su juga pernah ia alami sebagai sutradara yang tak selalu mendapat proyek berikutnya dengan mudah. Dalam “No Other Choice”, keresahan itu dituangkan lewat drama manusia yang menyentuh, lucu, sekaligus menohok.

Bagi penonton yang belum membaca novelnya, film ini akan jadi perjalanan emosional yang menarik, dengan akhir yang tak mudah ditebak. Bagi yang sudah familier, versi ini menghadirkan pendekatan baru yang lebih sesuai dengan zaman. (*)

Pos terkait