KEJARKABAR.COM, MUARATEBO – Kelangkaan gas LPG subsidi 3 kilogram atau yang akrab disebut gas melon mulai dirasakan warga Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi.
Di Kecamatan Tebo Tengah, gas bersubsidi ini semakin sulit ditemukan, baik di pangkalan resmi maupun di tingkat pengecer.
Situasi tersebut memicu keluhan dari masyarakat, khususnya pedagang kecil yang menggantungkan aktivitas usahanya pada LPG 3 Kg.
Tak hanya langka, harga gas melon di pasaran justru melonjak tajam.
Di sejumlah warung, satu tabung LPG bahkan dijual hingga Rp35 ribu, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disprindagkop UKM) Kabupaten Tebo, Mardiansyah, memastikan pihaknya telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan pengecekan.
“Kami sudah menindaklanjuti laporan masyarakat dengan memantau langsung ke pangkalan dan pengecer. Hasilnya, memang ditemukan harga yang tidak sesuai dengan ketentuan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Disprindagkop UKM juga memanggil lima agen LPG yang beroperasi di wilayah Kabupaten Tebo.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah menegaskan agar para agen lebih ketat mengawasi pangkalan yang berada di bawah naungan mereka.
“Kami minta agen serius mengawasi distribusi LPG subsidi agar tidak disalahgunakan dan dijual di atas HET,” tegas Mardiansyah.
Ia menjelaskan, HET LPG 3 Kg di Kabupaten Tebo telah ditetapkan secara resmi.
Untuk wilayah dalam kota, harga di pangkalan sebesar Rp19 ribu per tabung, sementara untuk daerah yang lebih jauh ditetapkan Rp20 ribu per tabung.
Ketentuan ini telah diberlakukan sejak 18 Desember 2025.
“Artinya jelas, harga LPG di pangkalan tidak boleh melewati angka tersebut. Jika ada yang melanggar, tentu akan kami tindak sesuai aturan,” tambahnya.
Sementara itu, keluhan keras datang dari pelaku usaha kecil. Yulia, pedagang di Kecamatan Tebo Tengah, mengaku sudah beberapa pekan kesulitan mendapatkan LPG 3 Kg di pangkalan.
“Di pangkalan sering kosong. Mau tidak mau kami beli di warung meski mahal, sampai Rp35 ribu. Yang penting ada buat usaha,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah segera menemukan solusi agar pasokan gas melon kembali normal. Menurutnya, kelangkaan LPG subsidi sangat berdampak pada keberlangsungan usaha kecil.
“Kalau gas susah dan mahal begini, kami benar-benar kesulitan. Harapannya pemerintah cepat bertindak,” pungkas Yulia. (*)





