Suara Terakhir dari Gaza: Film ‘The Voice of Hind Rajab’ Bikin Penonton Terpaku dan Menangis

Special screening film “The Voice of Hind Rajab” bersama KlikFilm di Jakarta. --ist--

JAKARTA, KEJARKABAR.COM – Bayangkan mengangkat telepon lalu yang terdengar hanyalah suara anak kecil yang ketakutan, memohon untuk diselamatkan di tengah suara tembakan yang tak henti-henti.

Perasaan menyesakkan itulah yang coba dihadirkan film “The Voice of Hind Rajab”, karya terbaru sutradara Kaouther Ben Hania.

Film ini diangkat dari kisah nyata yang mengguncang dunia pada 2024 tentang Hind Rajab, bocah Palestina berusia enam tahun yang menjadi korban serangan militer Israel di Gaza.

Dengan pendekatan sinematik yang berani, Ben Hania menjadikan rekaman suara asli percakapan Hind dengan petugas darurat sebagai pusat cerita.

Sejak menit pertama, film membuka dengan suasana kantor pusat panggilan darurat Bulan Sabit Merah Palestina, tempat ribuan permintaan bantuan dari seluruh wilayah, termasuk Gaza, diterima.

Baca Juga :  Film “Teman Tegar Maira, kisah persahabatan dalam penyelamatan hutan

Omar (Motaz Malhees), petugas yang sedang berjaga, menerima panggilan dari seorang pria di Jerman yang melaporkan keluarganya terjebak di tengah serangan.

Dari situlah diketahui bahwa satu-satunya yang masih hidup di dalam mobil adalah Hind, keponakannya.

Ketika sambungan telepon akhirnya sampai ke anak kecil itu, penonton dibawa masuk ke momen memilukan. Hind, bersembunyi di dalam mobil dengan tubuh keluarganya tergeletak di sekelilingnya, berkali-kali mengucapkan permintaan yang membuat dada sesak: “Aku takut… jemput aku… tank-nya mendekat.”

Omar dan rekannya, Rana (Saja Kilani), mencoba menenangkan Hind sambil mencari solusi. Ketegangan memuncak ketika mereka menyadari bahwa lokasi Hind sebenarnya sangat dekat dengan ambulans terdekat, namun akses menuju ke sana berada di zona berbahaya.

Baca Juga :  Gunung Kerinci Bergejolak, Masyarakat Dilarang Beraktivitas di Radius 3 Km; Pendakian Resmi Ditutup Total Mulai 6 Januari

Dilema kemudian muncul: memilih melanggar protokol demi menyelamatkan nyawa seorang anak, atau menaati prosedur yang membutuhkan persetujuan otoritas di atas mereka.

Ben Hania menyajikan visual dan audio dengan cara yang sangat kontras. Rekaman suara Hind dipertahankan sebagai elemen dokumenter, sementara adegan di kantor disajikan melalui akting para pemain.

Tanpa adegan aksi maupun dramatik peperangan, film ini justru membuat penonton merasakan ketidakberdayaan yang nyata—hanya melalui suara seorang anak dan perangkat headset para relawan yang mencoba menolongnya.

Film ini tampil bukan sebagai kisah heroik, melainkan sebagai kesaksian memilukan tentang keterbatasan kemanusiaan di tengah konflik. Suara Hind menjadi simbol harapan kecil yang terus meminta pertolongan meski dunia terasa bungkam.

Baca Juga :  Bikin Merinding! Amanda Manopo Ungkap Kejadian Mistis Saat Syuting Mendaki Gunung Welirang, Nyaris Tak Tertolong

Frederica, Direktur KlikFilm yang membawa film ini ke Indonesia, mengatakan bahwa karya tersebut lebih dari sekadar hiburan. “Ini adalah panggilan nurani. Sebuah ajakan untuk membuka mata terhadap apa yang terjadi di Gaza,” ujarnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang menghadiri press screening, juga memberikan kesan mendalam. Menurutnya, suara Hind mewakili jeritan masyarakat Palestina yang bertahun-tahun hidup dalam penderitaan. Ia menilai film ini berhasil memindahkan rasa sakit dan keputusasaan dari Gaza kepada siapa pun yang menontonnya.

“The Voice of Hind Rajab” rencananya mulai tayang di jaringan bioskop Indonesia pada 26 November 2025 melalui KlikFilm. Sebuah film yang bukan hanya untuk ditonton, tetapi juga untuk direnungkan. (*)

Pos terkait