JAMBI, KEJARKABAR.COM – Warga Jambi dibuat pusing tujuh keliling. Harga daging ayam ras di beberapa pasar tradisional melonjak tajam, bahkan sempat menyentuh angka Rp40.000 per kilogram.
Siapa sangka, akar masalahnya ternyata ada di ‘dapur’ sebuah program masif milik pemerintah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, Johansyah, akhirnya buka suara dan mengkonfirmasi dugaan yang beredar. Kebutuhan dari program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) adalah salah satu pemicu utama gejolak harga ini.
Angka yang diungkapkan Johansyah benar-benar mencengangkan. Menurutnya, tiap dapur SPPG membutuhkan sekitar 280 kg ayam setiap hari. Saat ini, sudah ada 71 dapur SPPG yang beroperasi di Jambi.
“Satu dapur SPPG itu butuh sekitar 280 kg ayam per hari, sekarang yang sudah beroperasi ada 71 dapur, kalau dikalikan kebutuhan sebulan totalnya bisa tembus 596,4 ton ayam. Nah itu banyak sekali dan jelas berpengaruh ke pasar,” ungkap Johansyah.
Analisis dari Dinas Ketahanan Pangan dan BPS menunjukkan bahwa saat jumlah dapur SPPG masih 57 unit, kebutuhan ayam sudah mencapai 6,8% dari total stok bulanan.
Kini, dengan penambahan jumlah dapur, persentase itu otomatis ikut melambung tinggi.
Kekhawatiran utama Dinas Ketahanan Pangan adalah praktik para vendor pemasok SPPG. Johansyah meminta dengan tegas agar para vendor ini tidak lagi menyerbu pasar tradisional untuk mendapatkan pasokan.
“Kami harap para vendor-vendor itu bekerja sama dengan peternak lokal. Kalau mereka masuk ke pasar, otomatis stok masyarakat berkurang, nah itu yang harus kita proteksi,” tegasnya.
Data sementara menunjukkan total ketersediaan pangan bulanan berada di angka 7.038 ton.
Dengan kebutuhan ayam SPPG yang hampir 600 ton, itu berarti sekitar 8,4% dari kapasitas ketersediaan ayam bulanan dapat tersedot habis hanya untuk memenuhi kebutuhan program ini.
Melihat dampak yang ditimbulkan saat ini, Pemerintah Provinsi Jambi tidak tinggal diam. Mereka berencana segera mengumpulkan semua vendor pemasok SPPG dalam sebuah rapat yang rencananya dipimpin langsung oleh Sekda.
“Kalau sekarang saja kebutuhan ayam mereka sudah mencapai hampir 600 ton per bulan, bisa dibayangkan nanti kalau jumlah dapur SPPG mencapai ratusan, itu yang kami khawatirkan,” tutup Johansyah. (*)





