TEGAS! China Hukum Mati 11 Anggota Sindikat Penipuan di Myanmar

Kelompok kriminal Ming dijatuhi hukuman karena melakukan penipuan telekonomunikasi dan pembunuhan di Myanmar. (ANTARA/HO-CCTV)

BEIJING – Pengadilan di China menjatuhkan hukuman mati terhadap 11 anggota sindikat kriminal keluarga Ming yang terlibat dalam kejahatan lintas negara, termasuk penipuan telekomunikasi dan pembunuhan berencana di wilayah Myanmar.

Vonis tersebut diumumkan pada Senin (29/9) oleh Pengadilan Rakyat Menengah Wenzhou, Provinsi Zhejiang, terhadap total 39 terdakwa yang merupakan bagian dari kelompok kejahatan terorganisir itu.

Dua pemimpin utama sindikat, Ming Guoping dan Ming Zhenzhen, termasuk di antara 11 orang yang dijatuhi hukuman mati tanpa penangguhan.

Lima terdakwa lainnya mendapat hukuman mati dengan penangguhan eksekusi selama dua tahun—vonis yang dapat diubah menjadi penjara seumur hidup jika menunjukkan perilaku baik.

Luka dan Memar Ditubuh Menguatkan Kecurigaan, Keluarga Menduga MR Dianiaya Sebelum Meninggal

Tragis! Kecelakaan di Jalinsum Sarolangun, Penumpang PCX Meninggal Dilindas Tronton

Selain itu, 11 terdakwa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, sementara 12 lainnya dijatuhi hukuman penjara antara 5 hingga 24 tahun.

Baca Juga :  SPPG Sengeti Hanya Diberi Teguran dari Satgas MBG Muaro Jambi Usai Kasus Siswa Keracunan

Hukuman ini disertai dengan denda, penyitaan aset, dan, dalam beberapa kasus, deportasi.

Media pemerintah menyebut hukuman ini bertujuan memberi keadilan bagi korban sekaligus peringatan bahwa kelompok kriminal di luar negeri tetap dapat dihukum berat.

Sejak 2015, keluarga Ming membangun “kompleks kejahatan” di Kokang, Myanmar, dengan memanfaatkan pengaruh sejumlah anggotanya.

“No Other Choice”: Komedi Gelap tentang Pemecatan, Frustrasi, dan Akal Sehat yang Tergelincir

Singgung Soal Anies Baswedan di Munas PKS, Ini Kata Prabowo

Mereka mendirikan pusat penipuan di Laoje, Shiyuanzi, dan daerah lain, menarik pendana, serta berkolaborasi dengan geng bersenjata.

Kejahatan yang dijalankan mencakup penipuan telekomunikasi, kasino ilegal, narkoba, dan prostitusi.

Hasil penipuan dan perjudian melebihi 10 miliar yuan (Rp23,4 triliun), membuat banyak keluarga bangkrut dan korban disiksa.

Baca Juga :  Erni Yuniati Sempat Berusaha Melawan! Ini 52 Adegan Rekonstruksi Ungkap Kematian Dosen Cantik

Kelompok itu menggunakan kekerasan, termasuk membunuh, untuk mengontrol korban.

FILM BARU! “Tukar Takdir”: Ketika Tragedi Udara Menjadi Drama Manusia yang Menggetarkan

Organisasi Pedagang Kecil Jakarta Kompak Tolak Raperda Kawasan Tanpa Rokok, Ini Alasannya

Dalam kasus penipuan telekomunikasi, 10 warga China tewas dan dua luka saat mencoba melarikan diri atau menolak perintah.

Pada 20 Oktober 2023, empat orang tewas dan empat luka ketika kelompok Ming menembaki korban yang hendak dipindahkan untuk mencegah mereka pulang ke China.

Pengadilan menyebut Ming Guoping, Ming Zhenzhen, dan terdakwa lain melanggar 14 dakwaan, termasuk penipuan, pembunuhan, dan penganiayaan.

Mereka dihukum mati karena “kejahatan berat dan memicu kemarahan publik,” sementara pelaku dengan peran lebih kecil dihukum sesuai tingkat keterlibatan.

Baca Juga :  Pasang Portal di Jalan Umum, Kades dan Ketua RT di Tanjab Timur Ditetapkan sebagai Tersangka

Kasus ini menyita perhatian publik sejak 2023. Pada November, polisi Wenzhou mengeluarkan daftar pencarian bagi para pemimpin kelompok.

Melalui kerja sama dengan Myanmar, tiga anggota kunci ditangkap dan diserahkan ke China. Pada 2024, jaksa mendakwa 39 anggota kelompok itu.

China dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan kampanye melawan penipuan telekomunikasi dengan mengirim tim penegakan hukum ke Myanmar, Thailand, dan Kamboja.

Pada Juli, Kementerian Keamanan Publik menyatakan telah menyelesaikan 1,74 juta kasus penipuan telekomunikasi periode 2021–2025, membongkar lebih dari 2.000 pusat penipuan luar negeri dan menangkap 80.000 tersangka.

Dalam kasus terpisah, sidang terhadap 21 anggota sindikat keluarga lain berbasis di Myanmar atas dakwaan penipuan dan pembunuhan berencana berakhir September di Shenzhen, Guangdong. Putusan akan diumumkan kemudian. (*)

Pos terkait