PADANG, KEJARKABAR.COM – Setelah perjuangan panjang lintas zaman, sosok luar biasa asal Minangkabau, Rahmah El Yunusiyyah, akhirnya resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.
Penghargaan ini menjadi penanda pengakuan negara atas kiprah besar pendiri Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, sekolah agama perempuan pertama di Asia.
Pimpinan Diniyyah Puteri saat ini, Fauziah Fauzan El Muhammady, tak bisa menyembunyikan rasa harunya atas momen bersejarah tersebut.
“Alhamdulillah, hari ini Bunda Rahmah resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Ini buah perjuangan panjang keluarga besar Diniyyah Puteri sejak masa Presiden Soeharto,” ujar Fauziah di Padang, Senin (10/11).
Perjuangan mengusulkan nama Rahmah bukan hal baru. Ia pertama kali diajukan sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto, namun baru sebatas mendapatkan Bintang Mahaputera Pratama di era B.J. Habibie, dan Bintang Mahaputera Adipradana pada masa Susilo Bambang Yudhoyono. Kini, setelah puluhan tahun penantian, gelar Pahlawan Nasional akhirnya dikukuhkan pada era Presiden Prabowo Subianto.
Fauziah mengakui tidak mengetahui pasti mengapa proses penetapan ini baru terwujud sekarang. Ia menduga hal tersebut karena banyaknya nama tokoh yang juga diajukan dalam daftar prioritas nasional.
Meski begitu, tak ada yang bisa menafikan besarnya jasa Rahmah El Yunusiyyah dalam perjuangan pendidikan dan kemerdekaan bangsa.
Lahir di Padang Panjang, 26 Oktober 1900, Rahmah muda sudah menunjukkan semangat pembaharu. Pada usia 23 tahun, ia mendirikan sekolah agama Islam khusus perempuan pertama di Indonesia bahkan di Asia, yang kemudian dikenal sebagai Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Langkah itu menjadi bentuk perlawanan terhadap kolonial Belanda yang kala itu melarang pendidikan nonkurikulum mereka dan menyita seluruh kitab serta buku pelajaran pesantren. Rahmah juga menentang keras aturan Belanda yang melarang pernikahan secara Islam.
Tak berhenti di masa penjajahan Belanda, Rahmah melanjutkan perjuangannya saat pendudukan Jepang.
Ia dikenal berani mengembalikan perempuan Minangkabau yang diculik hingga ke Medan, membubarkan rumah prostitusi buatan tentara Jepang, dan turut membentuk Batalyon Marapi — cikal bakal TNI dari Ranah Minang.
“Bunda Rahmah bukan hanya pejuang pendidikan, tapi juga pejuang kemerdekaan sejati,” tegas Fauziah.
Kini, nama Rahmah El Yunusiyyah tercatat abadi dalam sejarah bangsa, berdiri sejajar dengan para pahlawan perempuan Indonesia lainnya seperti Kartini, Cut Nyak Dhien, dan Dewi Sartika — simbol keteguhan perempuan Nusantara dalam mencerdaskan dan membebaskan bangsanya. (*)





