Populasi Terancam! Jalur Migrasi Gajah Sumatera di Jambi Akan Dibuka Kembali, Ini Rencana Besarnya

Upaya menyelamatkan gajah Sumatera di Jambi semakin diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak yang dipimpin Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. -ist-

KEJARKABAR.COM, JAMBI – Upaya menyelamatkan Gajah Sumatera di Jambi semakin diperkuat melalui kolaborasi berbagai pihak yang dipimpin Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi.

Langkah ini difokuskan pada pemulihan jalur migrasi alami gajah di kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh.

Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko, menjelaskan bahwa gajah Sumatera merupakan satwa kunci bagi keseimbangan ekosistem di Pulau Sumatera.

Karena itu, upaya pelestariannya tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Dalam program ini, BKSDA Jambi menggandeng sejumlah mitra, di antaranya APP Group, Proforest, WWF Indonesia, KKI WARSI, pemerintah daerah, pemangku kepentingan sektor kehutanan, serta organisasi konservasi lainnya.

Baca Juga :  BKSDA Jambi Evakuasi Satu Tapir Terjebak di dalam Sumur di Kawasan Candi Muara Jambi

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan pendekatan yang terintegrasi, berbasis penelitian ilmiah, serta berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.

Salah satu fokus utama program ini adalah membuka kembali jalur migrasi gajah yang menghubungkan wilayah Tanjung Jabung Barat dengan Kabupaten Tebo.

Selain itu, jalur pergerakan gajah dari area penggunaan lain (APL) menuju kawasan hutan di Kabupaten Tebo juga akan dipulihkan.

Baca Juga :  Apple Kenalkan MacBook Air dengan Chip M5 dan Memori 2 Kali Lebih Besar

Hasil pemantauan lapangan BKSDA Jambi menunjukkan bahwa saat ini terdapat sekitar 90 hingga 129 ekor gajah Sumatera yang hidup di kawasan tersebut.

Namun, sebagian habitat mereka telah terfragmentasi sehingga ruang jelajahnya semakin terbatas akibat terputusnya jalur migrasi alami.

Kondisi ini meningkatkan risiko konflik antara manusia dan gajah, karena satwa tersebut kerap memasuki area perkebunan atau permukiman untuk mencari makan.

Dengan membuka kembali jalur migrasi yang sempat terblokir, diharapkan konektivitas antarhabitat dapat pulih.

Baca Juga :  Buaya Senyolong Tebar Teror di Tanjabtim Usai Banjir Rantau Rasau Surut

Langkah ini juga diyakini mampu mengurangi potensi konflik dengan manusia sekaligus memperbaiki tata kelola bentang alam Bukit Tigapuluh secara menyeluruh.

Program ini menjadi bagian dari komitmen bersama berbagai pihak untuk menjaga keanekaragaman hayati di Sumatera serta mendorong pengelolaan lanskap yang lebih berkelanjutan.

Melalui kerja sama yang solid, para pihak optimistis jalur migrasi gajah dapat dipulihkan sehingga populasi satwa langka tersebut tetap bertahan bagi generasi mendatang. (*)

Pos terkait