KEJARKABAR.COM – Perjalanan mudik Lebaran yang identik dengan jarak tempuh panjang, kelelahan, serta perubahan pola aktivitas perlu menjadi perhatian khusus bagi pasien dengan gangguan irama jantung atau aritmia.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia dari Heartology Cardiovascular Hospital, dr. Dicky Armein Hanafy, mengingatkan pentingnya persiapan matang agar perjalanan tetap aman dan nyaman.
Menurutnya, pasien aritmia pada dasarnya tetap diperbolehkan melakukan perjalanan jauh, termasuk mudik, selama kondisi jantung dalam keadaan stabil dan terkontrol.
Namun, sejumlah faktor seperti kelelahan, kurang tidur, stres, dehidrasi, hingga kelalaian dalam mengonsumsi obat dapat memicu munculnya gejala, seperti jantung berdebar, pusing, bahkan sesak napas.
“Perjalanan jauh bukan hal yang dilarang, tetapi harus direncanakan dengan baik. Pastikan kondisi tubuh benar-benar siap,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan sebelum berangkat adalah berkonsultasi dengan dokter.
Pemeriksaan ini bertujuan memastikan kondisi jantung stabil serta terapi yang dijalani sudah sesuai.
Selain itu, pasien juga diingatkan untuk membawa obat dalam jumlah cukup, termasuk cadangan guna mengantisipasi keterlambatan perjalanan.
Kedisiplinan dalam mengonsumsi obat, lanjutnya, menjadi kunci utama dalam menjaga kestabilan irama jantung selama perjalanan.
Mengabaikan jadwal minum obat dapat meningkatkan risiko kambuhnya gangguan irama jantung.
Selain itu, pasien juga diminta untuk menjaga kondisi fisik dengan menghindari kelelahan berlebih dan memastikan waktu istirahat yang cukup. Kurang tidur diketahui dapat menjadi salah satu pemicu munculnya aritmia.
Asupan cairan dan pola makan juga tidak kalah penting. Dehidrasi dapat memperburuk kondisi jantung, sehingga pemudik disarankan untuk rutin minum air putih.
Konsumsi minuman berkafein dan berenergi sebaiknya dibatasi karena berpotensi memicu jantung berdebar.
Bagi yang menempuh perjalanan darat, disarankan untuk beristirahat secara berkala setiap beberapa jam.
Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki ringan atau peregangan dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan mengurangi risiko kelelahan.
Dalam situasi tertentu, pasien aritmia bisa saja mengalami keluhan di tengah perjalanan.
Jika hal tersebut terjadi, langkah awal yang bisa dilakukan antara lain menghentikan aktivitas dan beristirahat, mengatur napas secara perlahan, serta melakukan manuver sederhana seperti batuk ringan untuk membantu menstabilkan irama jantung.
Minum air putih juga dapat membantu mengurangi gejala yang muncul.
Namun demikian, apabila keluhan tidak kunjung membaik atau bahkan semakin berat—terutama jika disertai nyeri dada, sesak napas hebat, atau pingsan—pasien diimbau segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Dr. Dicky menegaskan, kunci utama mudik aman bagi pasien aritmia terletak pada persiapan yang baik dan kepatuhan terhadap pengobatan.
Dengan kondisi yang terkontrol dan perencanaan perjalanan yang matang, pasien tetap dapat menikmati momen kebersamaan dengan keluarga tanpa mengabaikan kesehatan. (*)





