Sering Pakai Headphone? Dokter Ingatkan Risiko Tuli Permanen, Ikuti Aturan 60–60 Ini

Foto ilustrasi pengguna headphone. Sementara ahli mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan perangkat audio tersebut. -ist-

KEJARKABAR.COM, JAKARTA – Kebiasaan mendengarkan musik menggunakan earphone atau headphone dalam waktu lama ternyata dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran.

Para ahli mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan perangkat audio tersebut.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher, Dr. dr. Harim Priyono, SpTHTBKL, Subsp. Oto (K), mengatakan paparan suara keras dari earphone atau headphone dalam durasi lama dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising atau noise induced hearing loss. Kondisi ini bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Baca Juga :  Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan Mahasiswi Jambi, Semua Pelaku Ternyata Perempuan

“Ketika menggunakan earphone atau headphone, telinga terpapar suara bising. Gangguan yang terjadi bukan tipe konduktif, tetapi sensori neural dan sifatnya permanen,” ujar Harim dalam diskusi daring yang digelar oleh RSUP Nasional Dr. Ciptomangunkusumo, Jumat (6/3).

Dokter yang juga anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan pengalaman lebih dari 19 tahun itu menjelaskan bahwa gangguan sensori neural terjadi akibat kerusakan pada sel rambut di koklea atau rumah siput di telinga bagian dalam. Jika sel-sel tersebut rusak, kemampuan pendengaran tidak bisa kembali seperti semula.

Baca Juga :  Sungai Batanghari “Bersuara”! Film Mantagi Bongkar Misteri Spiritual dan Luka Lingkungan Jambi

Untuk mengurangi risiko tersebut, Harim menyarankan masyarakat menerapkan aturan penggunaan headphone yang dikenal dengan prinsip 60–60.

Aturan ini berarti volume suara sebaiknya tidak lebih dari 60 persen dari kapasitas perangkat, dan waktu penggunaan maksimal 60 menit secara terus-menerus.

“Setelah 60 menit digunakan, sebaiknya beri jeda sekitar 15 menit atau lebih sebelum dipakai kembali,” jelasnya.

Selain itu, Harim juga menyebut teknologi bone conduction earphone sebagai alternatif yang relatif lebih aman dibandingkan earphone biasa.

Baca Juga :  MU Taklukkan Man City, Michael Carrick Tak Ingin Terbawa Euforia

Perangkat ini menghantarkan suara melalui getaran tulang, sehingga tidak langsung masuk melalui liang telinga.

Dengan cara tersebut, suara tidak mengalami penguatan alami di liang telinga, gendang telinga, dan tulang pendengaran, sehingga potensi kerusakan akibat paparan suara keras dapat berkurang.

Meski demikian, Harim menekankan bahwa penggunaan perangkat audio tetap harus dibatasi agar kesehatan telinga dan pendengaran tetap terjaga dalam jangka panjang. (*)

Pos terkait